admin
Kamis, 24 November 2016 13:11
Ditulis oleh Administrator

(Tentang) Bintang Yang Jatuh Cinta

Surya Abu Yusuf


أتاني هواها قبل أن أعرفَ الهوى

فصادف قلبا خاليا فتمكنا

Cintanya menyapaku sebelum aku mengenal cinta

Lalu cinta itu bertengger di hatiku dan bersemayam di sana


Inilah bait-bait cinta.

وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰى.

Dan bintang pun merasakan hawa.

فَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ وَاعْبُدُوْا

Bintang yang terbenam dan jatuh cinta karena sedang ingin sujud dan beribadah kepada Rabb-Nya.

Maka bersujudlah hanya kepada Allah dan sembahlah Dia. Ibarat bintang yang jatuh cinta dan terbenam kepada titah Rabbnya. Ia tidak tersesat dan tidak keliru saat membuktikan cintanya. Tidaklah cinta dan segala rasa hadir karena mengikuti hawa. Ia fitrah yang didukung dan dibimbing dengan wahyu yang diilhamkan kepada jiwa. Hingga semua bentuk cinta hendaknya berujung pada sujud dan ibadah kepada penyemai benih cinta di dalam dada. Inilah rangkaian ayat cinta yang berkaitan antara awal dan akhirnya. Hawa (nafsu) yang fitrah hendaknya tidak condong sesat dan keliru. Ikutilah wahyu dan ilham kebaikan agar semua kenikmatan cinta dan syahwat bernilai penghambaan dan cinta kepada Dzat Pemberi Cinta.

Manusia memiliki fitrah sesuai sunnatullah penciptaannya. Ia mempunyai hati dan perasaan. Yang tiada akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sempurna tanpa pasangan yang menemani dengan setia. Manusia memiliki syahwat jiwa dan kecenderungan pada wanita. Namun seringkali semua terasa sulit dan perasaan cinta pun tersesat dan keliru. Islam memberi kemudahan, keberkahan dan kesederhanaan. Menikahlah maka kamu akan kaya. Ringankanlah mahar. Pilihlah karena agama.


Di antara bintang-bintang yang merayakan cinta dengan sederhana

Kisah pertama, di suatu pagi saat Rasulullah menjumpai Abdurrahman bin Auf yang rambutnya basah dan bajunya kekuningan terkena parfum za’faran. Nabi bertanya, “kamu habis menikah ya?”. “Iya” jawab Abdurrahman bin Auf. “Kenapa tidak mengundang? Adakan walimah walau cuma seekor kambing”, Lanjut Nabi.

Kisah kedua, saat Ummu Sulaim dipinang oleh Abu Thalhah yang masih musyrik. Ia menolaknya hingga Abu Thalhah menyatakan mau masuk islam. “Sungguh tak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu wahai Abu Thalhah, bahwa berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku ini dan itu!” Sindir ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api pun ia akan terbakar” lanjutnya. Abu Thalhah berpaling tetapi perkataan berbekas di hatinya. Akhirnya la masuk islam dan mereka berdua menikah. Sederhana! Ummu Sulaim tidak meminta sesuatu lagi selain keislaman suaminya sebagai mahar.

Selanjutnya, kisah pertemuan dua insan yang melahirkan generasi bintang gemilang. Najmuddin menolak putri Sultan dan Menteri yang punya kecantikan dan kedudukan. Begitu juga gadis (yang kelak dinikahi Najmuddin) menolak pemuda yang punya kedudukan dan ketampanan. Akhirnya mereka berdua menikah karena visi yang besar. Keduanya menginginkan tangan yang bisa menggandeng ke surga dan melahirkan darinya ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin. Mereka adalah orang tua Shalahuddin Al Ayubi. Sederhana! Bertemu dan bersatu karena cita-cita mulia.

Pun, kisah Ashim bin Umar meminang gadis penjual susu yang jujur. Ia tidak berpanjang kalam mendengar tawaran ayahnya. Begitu sederhana karena Sang Ayah (Umar bin Khattab) melihat iman dan ketulusan jiwa yang memesona. Kelak dari jalur keturunan mereka, lahir calon pemimpin besar nan bersahaja, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Inilah indahnya cinta dalam bingkai ilmu dan kesederhanaan. Niat ikhlas dan ketulusan hati menyatukan dua insan manusia demi menggapai ridho illahi. Manusia tidak ada yang sempurna. Tetapi ilmu, keimanan, dan ketulusan hati menampakkan fitrah dan keinginan jiwa. Nafs dan hawa pun diberkahi. Hawa menjadi tiada tersesat dan keliru karena mengikuti bimbingan wahyu. Dan diujung cerita syahwat yang dihalalkan syariat (dengan pernikahan), mereka akan bersujud dan mempersembahkan ibadah seutuhnya kepada Allah semata.

Wallahu a’lam.

(Penulis adalah Guru Qonuni Kuttab Al Fatih Depok. Judul dan beberapa bagian isi diambil dari tausyiah pernikahan Alim Intifa' dan Rizki Fauziah, (keduanya guru kuttab Al Fatih Jakarta Timur) oleh Ustadz Herfi G. Faizi, Lc yang diselenggarakan penutupan Kuliah Pranikah Parenting Nabawiyah 2016.

Tulisan ini diambil dari artikel “Bintang Yang Jatuh Cinta” yang telah dipublikasikan di www.kuttabalfatih.com, dengan sedikit perubahan).

editor: Nunu Karlina

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin