nunu
PDFCetakSurel
Ahad, 09 Februari 2014 11:22
Ditulis oleh Nunu Karlina

Menyapih: Syariat dan Negosiasi

 

Sekolah Orangtua Parenting Nabawiyah telah memasuki pertemuan ke-10. Pada kesempatan ini tema pembahasannya tentang “Ibroh Besar dari Masa Hamil, Melahirkan, Menyusui.”

“Usia dua tahun adalah kesempurnaan penyusuan. Adakah yang lebih sempurna setelah sempurna?” tanya Ustadzah Poppy Yuditya, S.T, MBA di hadapan para  ibu, peserta Sekolah Orangtua Parenting Nabawiyah, Kuttab Al Fatih, Depok, Sabtu (8/2/2014).

Manajer Training Parenting Nabawiyah ini menyatakan bahwa menyapih adalah peran yang sangat penting. Namun, peran ini seringkali disepelekan sebagian orangtua. Bila menyusui adalah perintah, maka menyapih pun adalah perintah Allah.

“Menyapih anak adalah syariat”. tegasnya.

Terkait weaning with love (penyapihan dengan cinta), alumnus UNISA-Australia ini meminta para ibu untuk tetap tegas dan konsisten dalam proses pengkondisian penyapihan. Bukan malah membiarkan anak-anak tetap menyusu karena kita sangat mencintainya. Menunggu mereka yang meminta berhenti.

Namun, hal tersebut bukan berarti dengan cara yang monoton dan memaksa dengan kasar. Penting menggunakan kelembutan yang diiringi dengan pendisplinan pada anak. Mengingatkan anak atas perintah Allah sebagai Robbnya. Juga menguatkannya dengan kalimat-kalimat motivasi. Seraya mengurangi intensitas menyusui agar anak mulai terbiasa.

“Salah satu yang penting adalah pengkondisian beberapa bulan sebelum penyapihan di usia dua tahun. Bisa mulai dengan kalimat serupa ini, ‘Nak, perintah Allah berhenti menyusu di usia dua tahun, karena kamu hebat, nanti di usia dua tahun berhenti nyusunya ya.’ Dialog iman yang terus diulang.” terangnya.

Ibu dua anak ini menjelaskan bahwa seorang anak yang terbisa mendengarkan dialog iman dari ibunya, akan mudah untuk disapih dan menuruti ibunya. Berbeda dengan anak yang tak pernah mendapatkannya. Dialog iman dan negosiasi antara orangtua dan anak harus dijaga sesuai porsi bagaimana Islam mengaturnya. Jangan sampai gagal menerapkan syariat Islam karena kegagalan dialog dan negosiasi dengan anak.

“Maka sadarkah kita? Sebenarnya kegagalan proses menyapih adalah kegagalan awal  negosiasi  antara ibu dan anak. Periksalah bagaimana dialog iman kita padanya!” tandasnya. (nu/PN)

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin