nunu
Kamis, 22 September 2016 09:13
Ditulis oleh Nunu Karlina

Ilmu Sebelum  Amal

“Seringkali kita mempelajari ilmu yang sejatinya bukan ilmu fundamental. Apakah semua ilmu wajib dipelajari?  Sudahkah kita mempelajari yang fardhu ‘ain sebelum membahas yang fardhu kifayah?“ Tanya  Ustadz Iwan Setiawan, Lc pada kuliah perdana Akademi Keluarga Mustawa 2 Angkatan III, Depok, Sabtu (17/09/2016).

Pembina Parenting Nabawiyyah ini menyatakan tidak semua ilmu harus dipelajari oleh Muslim. Ada prioritas urutan yang harus diperhatikan. Pertama, ilmu fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang wajib dipelajari seperti pembahasan aqidah, Al-Qur’an, fiqih, termasuk ilmu dalam mempersiapkan pernikahan dan pendidikan anak,  dsb. Meski tidak secara mendalam, Muslim harus tahu dasar-dasar ilmu tersebut agar benar dalam ber-Islam.

Kedua, ilmu fardhu kifayah.  Yaitu, ilmu khusus yang dibebankan hanya kepada sebagian Muslim. Jika ada sekelompok muslim yang sudah mempelajarinya, maka tidak diwajibkan bagi seluruh muslim lainnya. Namun, jika tidak ada satupun yang mempelajari, maka semua Muslim terkena beban pelaksanaan kewajiban tersebut. Ilmu-ilmu spesialisasi termasuk dalam fardhu kifayah. Misalnya mengurus jenazah, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, astronomi, dsb.

Ayah dua putri ini pun menekankan pentingnya Ilmu sebelum segala sesuatu. Memiliki lmu sebelum berkata dan sebelum beramal.

“Imam Bukhari membahas kewajiban untuk berilmu sebelum berkata, dan beramal. Ini menandakan bahwa ilmu itu penentu baik atau buruknya perkataan dan amal seseorang. Jangan sampai perkataan atau amal kita salah atau bahkan menyesatkan orang lain. Sebelum melakukan apapun harus berlandaskan ilmu. Pun dalam mendidik anak.” Jelasnya.

Beliau pun menjelaskan bahwa menurut hadits Nabi ada orang-orang yang beramal akan celaka, kecuali orang-orang  yang berilmu. Dan orang yang berilmu itu akan celaka , kecuali yang ikhlas.

“Amalan apapun yang dilakukan Muslim tidak akan diterima kecuali dengan 2 syarat: ikhlas dan sesuai dengan ilmu (apa yang dikatakan Allah dan Rasul). Jika ilmu yang dimiliki seorang Muslim  belum matang, daya hancurnya lebih besar daripada daya perbaikannya.” tandasnya.(nu/PN)


  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin