nunu
Selasa, 27 September 2016 18:55
Ditulis oleh Nunu Karlina

Ayah, Kaulah Sumber Ilmu

“Ajarkanlah adab kepada mereka, dan ajarkan ilmu kepada mereka. Kewajiban seorang suami dan ayah, selain mencari nafkah, haruslah menjadi sumber ilmu bagi istri dan anak-anaknya.” Jelas Ustadz Iwan Setiawan, Lc pada kuliah perdana Akademi Keluarga Mustawa 2 Angkatan III, Depok, Sabtu (17/09/2016).

Pembina Parenting Nabawiyyah ini mengingatkan bahwa salah satu hak istri dan anak adalah mendapatkan ilmu dari suami (ayah) mereka.  Sesuai dengan yang disebutkan dalam Surat At-Tahrim ayat 6, yaitu untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka, maka kewajiban ayahlah untuk menjadi sumber ilmu.

Penting bagi keluarga muslim, khususnya ayah, untuk memahamkan dirinya dengan ilmu. Karena itu, ayah dan juga anggota keluarga diharapkan meluangkan waktu untuk belajar sehingga  terhindar dari kesesatan.

“Dengan berilmu, maka akan mengetahui mana yang halal dan haram. Semoga ayah dapat mendatangkan ahli ilmu ke rumah, juga menghadiri majelis-majelis ilmu. Sangat penting untuk menciptakan suasana keilmuan di rumah.” Harapnya.

Beliau pun menyemangati para peserta yang hadir untuk dapat belajar dari Ibunda para ulama. Contohnya Ibunda Imam Syafi’i. Meski ia hidup dalam kekurangan dan bukan seorang ahli ilmu, namun ia sangat mencintai ilmu. Ibunya memahami jalan kesuksesan anaknya hanya akan ditempuh dengan ilmu. Hingga bersungguh-sungguh menjadikan anaknya sebagai ahli ilmu. Maka, Imam Syafi’I yang saat itu masih kecil dipindahkan dari Palestina ke Makkah.

“Jangan sampai, karena kecintaan yang sangat, orangtua menghalangi anak dari ilmu. Jika anak belajar di pesantren atau tempat yang jauh, bertawaqallah pada Allah. Semoga Allah menjaga anak-anak kita lewat perantara ibadah-ibadah kita.” Serunya.

Dosen Akademi Siroh ini mengungkapkan banyak orang pandai bicara tapi tidak berilmu. Sesungguhnya ulama bukan hanya bisa bicara, hapalannya banyak, mampu memimpin dzikir, dsb. Tapi ulama adalah yang memiliki pemahaman luas dan besar rasa takutnya pada Allah. Karena ilmu adalah rasa takut pada Allah. Ketika ilmu kita bertambah, seharusnya rasa takut kita makin besar pada Allah.

“Di masyarakat kita ada yang berlebihan. Pakai kopiah langsung dipanggil ustadz atau ulama, pakai jubah dipanggil syaikh. Padahal belum tentu. Abu Lahab pun dahulu berjubah.” Ungkapnya.

Beliau pun menggambarkan perbedaan kondisi saat ini dengan saat-saat terbaik Nabi dan para Sahabat. Hari ini kita disuguhkan beragam informasi dari social media. Di sana semua bisa berbicara baik yang paham ilmu ataupun tidak. Sekarang ini cukup di-copy paste saja. Berbeda dengan saat-saat terbaik pada zaman Nabi dan para sahabat, ketika  itu banyak para ahli ilmu dan ilmu sudah banyak tersebar di masyarakat, maka sahabat diminta banyak beramal. Sedangkan Nabi pun mengingatkan bahwa di akhir zaman akan ada kondisi sedikit ahli ilmu (fuqoha).

“Bukankah saat ini kita di akhir zaman dan sedikit ahli ilmunya? Maka apa yang harus kita lakukan? Di zaman yang banyak fitnah ini, berilmu lebih baik daripada beramal. Dengan ilmu kita bisa menyaring yang benar. Perbanyaklah waktu untuk menuntut ilmu. Jangan sampai fiqih belum mengerti, tapi sudah nimbrung bahkan berdebat masalah perbedaan pendapat ulama dalam hal khilafiyah.” Tandasnya.

Akademi Keluarga Mustawa (level) 2 ini adalah lanjutan dari Akademi Keluarga Mustawa 1. Pesertanya adalah para alumni Sekolah Orang Tua (yang kini berganti nama menjadi Akademi Keluarga) dan Akademi Keluarga yang telah mengikuti 25 sesi sebelumnya. Pada level ini, materi berfokus pada pendidikan anak di atas 5 tahun hingga menjelang usia baligh (tamyiz). Berbeda dengan mustawa 1, selain materi dari para dosen, mustawa 2 ini memiliki sesi participative lecturing berupa diskusi dan studi kasus. (nu/PN)

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin