admin
Surel
Selasa, 15 Agustus 2017 08:06
Ditulis oleh Administrator

Safar Itu Sepenggal Azab?

Oleh: Syahril Mustafa


Pernah mendengar atau membaca kalimat judul tersebut?

Ketika membaca kalimat di atas apa yang ada dalam benak kita?

Apakah kalimat itu benar? Berlebihankah kalimat itu?

Rasanya tidak dapat dipercaya bagaimana safar bisa disebut sepenggal azab. Bukankah hampir semua orang menyepakati bahwa travelling itu menyenangkan?

Bukankah kita mendapatkan banyak manfaat dengan safar? Bukankah safar dapat menghilangkan kejenuhan, mendapatkan inspirasi, banyak bertemu orang baru, silaturahim,banyak mengenal daerah yang kita kunjungi beserta kulinernya?

Dan yang tidak kalah esensial adalah bukankah safar merupakan perintah dari Allah bagi hamba-Nya untuk melakukan perjalanan di muka bumi? Melihat bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya.

 

 

Demikian mungkin yang terlintas dalam benak kita membaca kalimat judul di atas.

Namun ternyata kalimat tersebut keluar dari lisan Nabi kita Abul Qosim Muhammad ibn Abdillah yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Abu Hurairah Radhiallahu anhu. Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, mempunyai hafalan yang menakjubkan dan bahkan sorbannya pernah didoakan Nabi.

Begini hadistnya:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

Safar adalah sepenggal dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927).

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa safar dikatakan sebagai sepenggal dari azab (siksa)?

Kalaulah  dalam hadits tersebut disampaikan safar itu disebut sebagai azab (siksa) karena sulit makan, minum, dan tidur maka realita yang ada hari ini malah sebaliknya.

Ketika seseorang melakukan safar pada zaman sekarang ini, orang tersebut bahkan seringkali makan dan minum dengan aneka rupa dan kelezatan yang belum pernah dijumpainya. Tidur pun bisa jadi di hotel bintang 5 atau tempat yang lebih mewah dengan segala fasilitasnya yang tidak ada di rumahnya. Apakah hadits tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kita saat ini?

Untuk memahami maksudnya, mari kita pelajari penjelasan para ulama tentang hadits ini.

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan safar adalah sepenggal dari azab (siksa) karena safar akan meninggalkan segala yang dicintainya.

لِأَنَّ فِيهِ فِرَاق الْأَحْبَاب

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengungkapkan bahwa tatkala seseorang melakukan safar, sesungguhnya dia telah meninggalkan keluarganya. Padahal bisa jadi ketika itu keluarga membutuhkan kehadirannya. Keluarga yang ditinggal di rumah membutuhkan bimbingan, pengarahan, pendidikannya atau selainnya.

Subhanallah…

Hadits ini ternyata mengajarkan kita tentang betapa tersiksanya seseorang bila berjauhan dengan keluarga yang dicintainya. Itulah yang dimaksud dengan safar itu sepenggal azab.

Makanan, minuman, tidur dengan segala kenikmatannya tetap terasa tidak sempurna bila tidak bersama keluarga yang kita cintai.

Kehadiran kita ditengah-tengah keluarga menjadi kebutuhan bagi keluarga yang tidak bisa digantikan oleh apapun.

Hal ini juga dijelaskan dalam Hadits Rasullah yang lain ketika Beliau menyeru sahabatnya Malik bin Huwairits dan rombongannya yang berjumlah 20 orang untuk pulang kembali ke keluarganya, Rasulullah bersabda:

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

“Kembalilah kepada keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka. Ajarilah dan didiklah mereka.” (Shahih Al-Bukhari no. 631)

Ini menunjukkan betapa seseorang itu tidak semestinya meninggalkan keluarganya kecuali lantaran ada kebutuhan. Inilah yang lebih utama (Syarh Riyadhi Ash-Shalihin, 2/1230).

Ini menjadi panduan bagi keluarga muslim. Jalani peran kita dengan baik. Buatlah kehadiran kita di tengah keluarga berarti.

Menghadirkan surga dalam keluarga kita. Sehingga bagi siapapun anggota keluarga kita yang melakukan safar, rindu ingin segera kembali bertemu keluarganya. Bukan malah sebaliknya, mereka malah betah berada di luar ketimbang berada di rumah.

Semoga Allah selalu membimbing keluarga kita.

Wallahu a’lam

(Tulisan ini terinspirasi dari apa yang disampaikan Ustadz Budi Ashari, Lc saat kami safar untuk silaturrahim ke Bumi Ruwa Juwai, Lampung beberapa waktu silam)

editor: Poppy Yuditya

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin