budi
Ahad, 16 Juli 2017 08:04
Ditulis oleh Budi Ashari

Cinta Ummu Hani’

Kisah cinta Ummu Hani’ masih menyisakan fragmen yang layak kita cermati. Karena sarat dengan manfaat dan pelajaran untuk perjalanan cinta kita. Agar kita belajar cinta dari orang-orang mulia.

Ummu Hani’ memang telah berusia. Dengan tongkat di tangan sebagai penguat langkahnya. Setelah beliau memutuskan untuk menolak lamaran Rasulullah, praktis ia wanita Quraisy yang fokus mengurus anak-anaknya. Dan benar sabda Rasul kita, bahwa para wanita harus belajar dari wanita Quraisy; yang sangat lembut dan sayang kepada anak-anak mereka dan sangat menjaga kepemilikan suami mereka. Dan memang tidak ada kelebihan yang mengangkat wanita melebihi dua kelebihan tersebut.

Ummu Hani’ seorang janda yang sendiri mengasuh anak-anaknya. Maka lihatlah Rasulullah yang tetap membantu Ummu Hani’ walau cinta tak bisa dipersatukan.

Selengkapnya...

nunu
Sabtu, 08 Juli 2017 06:14
Ditulis oleh Nunu Karlina

Mengapa Berat Hati Berkarya Dari  Rumah?

Langit tak lagi semerah saga. Malam perlahan datang. Layar di gawai pintar menunjukkan detik semakin mendekati Isya. Commuter line jurusan Jatinegara-Bogor penuh sesak, tak terkecuali gerbong satu dan delapan khusus untuk perempuan. Apalagi jika roker (rombongan kereta) di Stasiun Tanah Abang dan Sudirman (dua stasiun yang masuk daftar 5 besar penumpang teramai) telah bergabung. Diperkirakan dalam satu gerbong itu mampu diisi sekitar 250 orang. Sehingga kedua kaki hampir tak menapak di lantai gerbong, karena sangat padatnya. Berhasil masuk gerbong saja itu merupakan sebuah keberuntungan.

Hal ini kerapkali berlangsung di rush hour, sekitar pukul 06:00-08:00 pagi dan 16:00-19:30 petang. Pernah merasakan sensasinya? Jika tidak kuat mental, jangan coba-coba!

Selengkapnya...

nunu
Jum'at, 31 Maret 2017 10:41
Ditulis oleh Nunu Karlina

Menjadi Ibu Visioner

“Aaah.. saya mah apa atuh? Bukan lulusan pesantren, yang penting anak-anak bisa sholat dan ngaji, udah cukup…”

“Saya belum jadi ibu shalihah.. gak bisa memaksa anak jadi shalih dan shalihah…”

“Saya punya banyak maksiat… ga berani mimpi punya anak-anak yang bisa jadi orang hebat…”

Pernah mendengar perkataan-perkataan semacam ini? Ungkapan rendah diri seolah tanpa daya dari orangtua yang merasa dirinya tidak sempurna dan berpasrah sampai situ saja. Kesalahan yang masih meninggalkan nokhtah-noktah noda dan resah hingga menutupi cahaya harapan, bahwa esok dengan izin Allah, generasi yang lahir dari rahimnya bisa jadi jauh lebih baik darinya.

Kalaupun berani bercita-cita, tak jauh-jauh dari hal yang berstandard dunia. Tidak sedikit orangtua yang berharap dan berjuang sekuat tenaga (bahkan kalau perlu memaksa) agar anak-anaknya memiliki profesi yang menghasilkan banyak uang: dokter, pilot, arsitek, pebisnis, artis, dll. Kelak punya rumah dan mobil mewah, investasi di mana-mana, dan bisa jalan-jalan keliling dunia. Lalu di mana letak akhirat itu berada? Mengapa anak-anak tidak diarahkan menjadi pencinta ilmu, alim Ulama, atau pemimpin bagi umatnya?

Selengkapnya...

budi
Sabtu, 07 November 2015 07:22
Ditulis oleh Budi Ashari

Ini Ibu Mereka

(Serial Sapa Pagi)

 

Hindun binti Utbah. Saat anaknya masih kecil, ada yang berkata kepada ibunya bahwa kelak anak ini menjadi pemimpin bagi kaumnya.
Hindun berkata, "Celakalah dia, kalau hanya menjadi pemimpin bagi kaumnya saja!"
Anak itu besar dan benar memimpin bumi, bukan hanya kaumnya. Muawiyah radhiallahu anhu.
(Inilah Ibu yang tak rela dengan hasil yang sederhana)

Seorang ibu. Suatu hari dia berkata pada anaknya, "Nak, tuntutlah ilmu. Aku yg mencukupimu dengan tenunanku. Nak, jika kamu telah menulis sepuluh hadits, maka lihatlah jiwamu apakah ia bertambah takut, lembut dan wibawa. Jika kamu tidak melihat itu ketahuilah bahwa ia membahayakanmu dan tidak manfaat bagimu."
Dan lahirlah seorang pakar ilmu besar bidang hadits dan faqihnya Arab. Sufyan ats Tsauri rahimahullah.
(Ibu yang berjuang membiayai pendidikan anaknya dan membimbing dengan nasehat mahalnya)

Selengkapnya...

budi
Selasa, 23 Desember 2014 18:14
Ditulis oleh Budi Ashari

Ibu, Maaf Tak Ada Bunga Untukmu

Dalam silaturahim saya ke salah seorang senior saya, dengan gurau beliau berkata: Ayo, sudah cari kado belum untuk hari ibu?

Di grup orang-orang baik yang ada di media sosial pun bermunculan berbagai kreasi gambar tentang kemuliaan seorang ibu dan ujungnya: Selamat Hari Ibu.

Saya baru sadar kalau ini adalah bulan di mana hari ibu diperingati. Dari sejak awal, saya katakan bahwa berbagai peringatan hari tersebut jelas bukan karakter agama Islam ini. Tak hanya hari ibu, ada juga hari ayah, hari tembakau, hari kanker, dan entah hari-hari apa yang akan diusulkan kembali setelah ini.

Selengkapnya...

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin