budi
Ahad, 16 Juli 2017 08:04
Ditulis oleh Budi Ashari

Cinta Ummu Hani’

Kisah cinta Ummu Hani’ masih menyisakan fragmen yang layak kita cermati. Karena sarat dengan manfaat dan pelajaran untuk perjalanan cinta kita. Agar kita belajar cinta dari orang-orang mulia.

Ummu Hani’ memang telah berusia. Dengan tongkat di tangan sebagai penguat langkahnya. Setelah beliau memutuskan untuk menolak lamaran Rasulullah, praktis ia wanita Quraisy yang fokus mengurus anak-anaknya. Dan benar sabda Rasul kita, bahwa para wanita harus belajar dari wanita Quraisy; yang sangat lembut dan sayang kepada anak-anak mereka dan sangat menjaga kepemilikan suami mereka. Dan memang tidak ada kelebihan yang mengangkat wanita melebihi dua kelebihan tersebut.

Ummu Hani’ seorang janda yang sendiri mengasuh anak-anaknya. Maka lihatlah Rasulullah yang tetap membantu Ummu Hani’ walau cinta tak bisa dipersatukan.

Ibnu Sa’ad dalam Ath thabaqat Al Kubra mengatakan bahwa Rasulullah memberi Ummu Hani’ 40 Wasaq kurma dari hasil Khaibar. Khaibar adalah penghasil kurma terbesar di Jazirah Arab saat itu. Setelah tahun 7H, yahudi Khaibar para pemilik kebun kurma itu berhasil ditaklukkan oleh Rasulullah dan para sahabat, maka separuh hasil kebun mereka wajib disetorkan ke Madinah. Karenanya, sahabat melaporkan bahwa setelah Khaibar itulah mereka baru paham arti kata kenyang. Begitu melimpahnya hasil Khaibar. Rasulullah tentu memiliki hak seperlima seperti yang diatur dalam Al Quran dan terserah beliau menyerahkannya kepada siapa.

Ummu Hani’ tak terlewatkan. Tidak kecil pemberian Rasul. 40 Wasaq. Perlu diketahui bahwa wajib zakat pertanian dengan nishob hanya 5 Wasaq. Itu artinya pemberian Nabi ke Ummu hani’ 8 kali lipat nishab zakat. Sementara seseorang tidak wajib membayar zakat kecuali orang yang berkecukupan. Karenanya, bisa kita katakan di sini bahwa Nabi memberikan kepada Ummu Hani’ bukan sekadar pemberian. Tetapi pemberian yang mencukupi bahkan melebihi batas nishob zakat.

Mari kita dekatkan kepada rupiah besaran pemberian Nabi ini.

1 Wasaq = 60 Sho’, maka 40 Wasaq = 2400 Sho’. Satu Sho’ seukuran satu zakat fitrah kita. Para ahli ilmu berbeda pendapat satu Sho’ seukuran berapa kilogram; berkisar antara 2,040 kg hingga 3 kg. Jika diambil seperti kebanyakan di negeri kita, 2,5 kg, maka pemberian Nabi sebesar 2,5 kg x 2400 = 6000 kg/6 ton kurma. Jika harga kurma sekilo nya Rp.50.000,- maka hadiah Nabi kepada Ummu Hani’ sebesar: Rp 300.000.000,-

Dan kurma Khaibar terus panen...

Tak cukup dengan pemberian itu, Nabi masih memberikan arahan tentang penghasilan keluarga. Bukan penghasilan biasa, tetapi penghasilan yang baik lagi berkah. Dengarkan arahan Nabi untuk Ummu Hani’ berikut ini,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ، قَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " اتَّخِذِي غَنَمًا يَا أُمَّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا تَرُوحُ بِخَيْرٍ، وَتَغْدُو بِخَيْرٍ

Dari Ummu Hani’, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya, “Peliharalah kambing wahai Ummu Hani’, karena ia pergi pagi dengan kebaikan dan kembali sore dengan kebaikan.” (HR. Ahmad dan Ibnu majah)

Sungguh sangat indah...

Tentang rumah tangga Nabi, Ummu Hani’ ikut mengabari kita tentangnya. Ummu Hani’ lah yang mengabari kita tentang urusan rumah tangga Nabi yang sangat pribadi,

عن أم هانئ أن النبي صلى الله عليه وسلم اغتسل وميمونة من إناء واحد في قصعة فيها أثر العجين

Dari Ummu Hani’ bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mandi bersama Maimunah dari satu bejana bekas adonan makanan. (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majah)

Waktu terus berjalan...

Ummu Hani’ semakin berusia. Kelelahan mengurusi anak-anak sungguh menyita seluruh perhatian dan tenaganya. Ibu yang super. Bertanggung jawab penuh. Kaki tak lagi sanggup menahan beban fisik. Tongkat di tangan bertugas membantu beban kaki. Ibadah sambil berdiri sudah terasa berat. Maka Ummu Hani’ yang berjumpa Nabi suatu hari menanyakan hal ini. Dengan tetap semangat beribadah, dengan keadaan fisik yang tak lagi sekuat dulu. Dan berikut penuturan Ummu Hani’,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَتْ : مَرَّ بِي ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ، أَوْ كَمَا قَالَتْ، فَمُرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ، قَالَ: " سَبِّحِي اللهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاحْمَدِي اللهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ، فإنها تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ، تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِي سَبِيلِ اللهِ، وَكَبِّرِي اللهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ، وَهَلِّلِي اللهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ، قَالَ ابْنُ خَلَفٍ: أَحْسِبُهُ قَالَ، تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَا يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لِأَحَدٍ مِثْلُ عَمَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ

Dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib berkata: Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati kami, maka aku pun berkata: Ya Rasulullah, aku telah tua dan lemah, ajarkan kepadaku sebuah amal yang bisa aku amalkan sambil duduk.

Rasul mengajari, “Bacalah tasbih 100 kali, ia sama dengan kamu membebaskan 100 budak dari anak turun Ismail. Bacalah tahmid 100 kali, ia sama dengan kamu menginfakkan 100 kuda bepelana fi sabilillah. Bacalah takbir 100 kali ia sama dengan kamu memiliki 100 unta yang disiapkan untuk infak. Dan bacalah tahlil 100 kali.

Ibnu Khalaf berkata: saya duga (Rasul berkata) ia akan memenuhi antara langit dan bumi. Dan hari itu tidak ada amal yang diangkat melebihi kebaikan amalmu, kecuali yang beramal seperti amalmu. (HR. Ahmad dihasankan oleh Al Mundziri, Al Haitsami)

Subhanallah...

Alhamdulillah...

Allahu Akbar...

Lailaha Illallah...

 

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin