poppy
Kamis, 30 November 2017 05:56
Ditulis oleh Poppy Yuditya

Aku Dikaruniai Cintanya


“Sungguh, aku dikaruniai cintanya.” demikianlah kalimat Rasulullah ﷺ ketika menggambarkan Ummul Mukminin,  Khadijah radhiallahu anha.

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah, ketika beliau merasa sangat cemburu kepada Rasulullah karena Rasulullah seringkali memuji Khadijah dan menyebut-nyebut namanya.

“Aku tidak cemburu pada istri-istri Nabi seperti aku cemburu kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah menjumpainya.”

Apa yang sebenarnya Rasulullah rasakan  hingga membuat kalimat sedemikian dalam untuk menggambarkan sosok Khadijah?

Aku dikaruniai cintanya…

Cinta macam apa yang diberikan oleh Khadijah hingga Rasulullah merasa dikaruniai oleh cinta Khadijah?

 

 

Mari kita sama-sama menyimak hadits berikut:

“Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya? Ia beriman kepadaku kala orang-orang ingkar kepadaku. Ia membenarkanku kala orang-orang mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya kala orang-orang tidak memberiku. Dan Allah memberiku anak-anaknya kala Ia tidak memberiku anak dari wanita-wanita lain.” (HR. Ahmad)

***

Aku Dikaruniai Cintanya
(Sebuah Muhasabah Bagi Para Istri)

Seringkali kita merasa paling berjasa dalam rumah tangga ini. Kita yang mengurus rumah, dari kebersihan, keteraturan, kerapihan, hingga mengajarkan anak-anak kita dalam kesehariannya.  Kelelahan kita dengan pekerjaan rumah tangga. Emosi naik turun yang mewarnai proses pendidikan anak-anak kita. Kejenuhan dengan rutinitas sehari-hari yang never ending. Kebosanan karena merasa terlalu banyak diam di rumah.

Aaaaaaaaaaah…..
Berjuta rasanya hingga kalimat tak cukup untuk mendeskripsikan berkecamuknya rasa.

Maka betapa terhiburnya hati kita ketika tahu bahwa Rasulullah membantu pekerjaan rumah tangga istrinya. Lalu kita sibuk meminta pada pada para suami, “Tuh Rasulullah saja membantu pekerjaan istrinya,” begitu kita berkata.

Ketika kita tahu Rasulullah mengajak istrinya untuk menonton pertunjukkan, segera kita mintakan padanya hal yang sama. “Rasulullah juga mengajak istrinya nonton lho…”

Ketika Rasulullah mengatakan aku adalah orang paling baik pada keluargaku, maka ketika suami marah, kita berkata,”Rasulullah itu orang yang paling baik pada keluarganya,” seakan Rasulullah tak pernah menegur istri-istrinya.

Wahai diri yang mudah menghakimi…
Kali ini mari kita pakai kaca dan rasa dalam menuntut.

Aisyah radhiallahu anha mencatatkan bahwa Khadijah adalah wanita yang Rasulullah tak memadunya hingga Khadijah meninggal dunia.

Jibril menyampaikan salam dari Rabbnya kepada Khadijah, dan menyampaikan salam dari dirinya kepada Khadijah. Serta meminta Rasululllah menyampaikan kabar gembira sebuah rumah di surga dari mutiara cekung, yang tiada kegaduhan dan keletihan di dalamnya.

Bagaimana kemuliaannya hingga Rasululllah berkata , “Aku dikaruniai cintanya”?

***

Ketika suami pulang kemudian memutuskan membawa perubahan yang menurutnya baik bagi keluarga, tapi sangat drastis dan membutuhkan banyak pengorbanan dan perubahan yang signifikan dalam kenyamanan hidup kita. Apa yang kita lakukan? Apakah langsung menerimanya?

Simaklah ini,
Rasulullah pulang membawa risalah baru, siapa yang pertamakali beriman? Istrinya!
Apakah Khadijah tak tahu konsekuensi duniawi dari apa yang dibawa Rasulullah?
Khadijah adalah wanita cerdas, punya kecenderungan taat beragama, berwawasan luas, idealisme tinggi, kedudukan tinggi di kaum Quraisy, dan kaya raya.   
Beliau berada pada posisi yang sangat nyaman secara duniawi.
Dengan kecerdasan beliau, mungkinkah  beliau tak tahu apa akibatnya menerima risalah yang dibawa suaminya? 
Justru karena semua kemuliaan yang dimilikinyalah, beliau memilih untuk beriman dan menjadi manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah dalam sejarah.

Ketika suami gundah karena ada masalah besar yang tak pernah disangka akan menjadi ujian besar bagi keluarga. Apa yang kita lakukan?
Sibuk lebih panik? Memikirkan bagaimana nasib kita dan anak-anak esok hari? Menangis dan bertanya bertubi-tubi hingga suami tak lagi sanggup menjawab?

Simaklah ini,
Rasulullah pulang menerima wahyu pertama dalam kondisi gemetar ketakutan. Khadijah memeluknya, menyelimutinya, mendengarkan curahan hati suaminya. Kemudian menghiburnya dengan kata-kata pujian pada suaminya untuk menenangkannya. Bahkan keesokan harinya Khadijah mengajak Rasulullah menemui Waraqah yang diyakini dapat memberi solusi bagi keresahan suaminya.
Lihatlah kekuatannya dan kecerdasan akalnya untuk membantu suaminya menemukan solusi permasalahannya.

Ketika kita sibuk mempertanyakan perbedaan antara uang nafkah dan uang belanja istri, Khadijah tak pusing soal itu. Dia lah yang sudah lebih dahulu menyerahkan hartanya untuk suaminya.

Ketika kita sibuk mengaku lelah seharian bekerja di rumah dan bad mood ketika melayani suami, Khadijah tak mengeluh ketika  mendaki gunung memberi bekal makan untuk suaminya yang beruzlah.

Ketika kita sibuk menuntut waktu lebih suami untuk kita, Khadijah yang pertama kali mendukung dakwah suaminya walau itu artinya waktu untuk keluarga akan terbagi.

Ketika kita keberatan karena keluarga suami tinggal di rumah kita, Khadijah menyambut dengan tangan terbuka dan penuh cinta. Bahkan memberikan banyak hadiah atas kehadiran Ali bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah.

Ketika kita sibuk membatasi jumlah anak karena enggan repot dan merasa usia sudah bertambah, Khadijah di usianya yang  matang melahirkan 6 anak bagi Rasulullah.

Ketika kita ribut minta piknik, Khadijah melepas kepergian sang putri tercinta untuk hijrah ke Habasyah. Tak ada piknik bagi mereka.

Ketika kita menangis menuntut nafkah yang kurang dari suami, Khadijah menangis karena  khawatir tak ada lagi yang bisa disumbangkannya untuk suami dan dakwah Islam.

”Wahai Rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini”.

Subhanallah....

Jadi di posisi mana kemuliaan kita sebagai istri?
Mari pakai kaca, pakai rasa!

 

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin