nunu
Nunu Karlina
Rabu, 02 Januari 2013 16:53

Lahir di Jakarta, 9 Juli 1987. Bermula dari harapan, cita-cita, serta do’a dari kedua orangtuanya untuk  memiliki seorang anak perempuan yang sukses dan mulia, adalah sosok yang percaya diri, senang mengenal dan mempelajari pribadi diri serta orang-orang di sekitarnya.

Tarbiyah Islamiyah secara intensif dimulainya saat bergabung bersama IRMA Rohis SMAN 84 Jakarta tahun 2002. Jalan yang mengantarkannya semakin mendalami ilmu agamanya. Hingga kini ia aktif sebagai Bendahara FAI (Forum Alumni IRMA) SMAN 84 Jakarta. Membaca, berpikir, dan menulis adalah hobi alumnus Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ ini.

Tertarik pada hal yang berhubungan dengan Al-Quran dan Siroh Nabawiyah, khususnya dalam dunia pendidikan, konseling-psikologi, thibbun nabawi dan entrepreneurship.

Cita-citanya untuk menjadi ibu sebagai madrasah pertama generasi peradaban, menjadi pijakannya untuk mengikuti langkah Parenting Nabawiyah.

“Tidak ada yang kebetulan” (sesuai Q.S Al An’am:59), salah satu prinsip Ketua IMABKIN (Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Indonesia) tahun 2007-2009 ini, membuatnya bersyukur dipertemukan bahkan diberi kesempatan belajar dan berkarya dengan para ahli ilmu di Tim Parenting Nabawiyah dan Al Fatih Pilar Peradaban. Dengan motto hidup  "Bismillah… Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan", membuatnya selalu yakin tiada masalah yang tidak dapat diselesaikan, tiada ujian yang tidak akan berakhir, dan kejayaan Islam nan gemilang akan kembali datang. Biidznillah.

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin