Parenting Nabawiyah

budi
Jum'at, 05 April 2013 08:28
Ditulis oleh Budi Ashari

Bimbang Harus Ada di Rumah

 

Assalamualaikum wr wb.

Yth Ustadz.. yang dirahmati Allah

Saya seorang istri dan ibu dari 2 orang anak. Kami berdua sama sama bekerja dan anak anak dirumah dengan pembantu. Alhamdulillah sejauh ini keluarga baik baik saja, anak anak tumbuh sehat dan ceria.


Setiap hari saya berangkat kerja sebelum pukul 6 pagi dan sampai dirumah kembali rata-rata pukul 18.30 malam. Sedangkan suami berangkat lebih pagi dari saya dan sampai di rumah lebih cepat.

Sudah agak lama sebenarnya suami mengungkapkan keinginannya supaya saya off bekerja. Keinginan itu beberapa kali disampaikan ke saya.

 

Saya paham dan merasa wajar akan keinginan beliau. Mengingat perjalanan menuju kantor yang tidak mudah (setiap hari saya menggunakan KRL Bogor-Jakarta PP) dan anak anak yang semakin butuh perhatian. Tetapi beliau juga tidak menghalangi saya untuk tetap bekerja. Secara ekonomi alhamdulillah saat ini sudah cukup mapan bahkan gaji beliau di atas saya.

Selengkapnya...

nunu
Rabu, 18 September 2013 20:56
Ditulis oleh Nunu Karlina

Resensi Buku Remaja, Antara Hijaz dan Amerika


Judul            : Remaja, Antara Hijaz dan Amerika (Panduan Penyiapan Masa Baligh)

Penulis          : Budi Ashari, Lc

Cetakan        : ke-2

Halaman       : 116

 

Inilah buku ke-3 dari seri Parenting Nabawiyah. Buku yang berfokus pada persiapan masa baligh. Mengapa usia baligh? Karena pada masa ini merupakan sebuah bagian mata rantai penting kehidupan manusia. Masa kuat di antara dua masa lemah. Fase khusus yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Buku ini menguak tentang cara pandang yang salah terhadap remaja. Pandangan masyarakat yang dipengaruhi konsep pendidikan dan psikologi barat dan diperburuk dengan data-data penelitian sebagai dasar berpikir dan bersikap. Penulis mengajak kita untuk tidak panik menghadapi data-data yang disuguhkan tersebut. Data yang membuat para orangtua menjadi sangat cemas dan takut dengan kondisi anak-anaknya. Sehingga memunculkan stigma-stigma negatif bahwa remaja itu pasti nakal, salah, susah diatur, melakukan kerusakan, dsb.

Selengkapnya...

budi
Senin, 22 September 2014 15:06
Ditulis oleh Budi Ashari

Ternyata Nasyid Itu Telah Tergantikan

 

Sebenarnya, nasyid adalah merupakan salah satu konsep pendidikan Islam. Seperti yang dituliskan oleh DR. Khalid Ahmad Asy Syantut dalam Tarbiyatul Athfal fil Hadits Asy Syarif. Demikian juga dalam tulisan para ahli pendidikan Islam hari ini. Walaupun, kita harus terlebih dulu mendengarkan definisi nasyid yang mereka maksud. Karena hari ini nasyid telah bergeser turun ke dua tangga di bawahnya; bermusik (keluar dari wilayah khilafiyah dianjurkan dalam syariat) dan syair tanpa ruh (hal ini dipengaruhi di antaranya oleh niat yang telah bergeser kepada bisnis, yang sedari tadinya berniat da’wah). Nasyid yang dimaksud oleh para ahli itu adalah nasyid yang terbebas dari kedua hal ini.

Oleh karena itulah, saya pernah menyampaikan kepada teman-teman yang dulu menggeluti dunia nasyid agar membuat nasyid yang dimaksud, untuk menjadi bagian dari kurikulum pendidikan buat anak-anak di masa kanak-kanak awal. Tapi, teman-teman ini menolak. Kalimat penolakan paling lembut adalah: serahkan saja kepada yang lain, kami baru saja hijrah.

Selengkapnya...

budi
PDFCetakSurel
Jum'at, 20 Desember 2013 12:01
Ditulis oleh Budi Ashari

Dicari! Wanita Quraisy

Ini salah satu petunjuk Nabi yang sangat detail tentang mencari istri dan bisa juga untuk bahan koreksi bagi setiap muslimah yang telah menjadi istri. Sekaligus bukti bahwa tidak ada petunjuk yang sedetail, seindah, dan sedalam bimbingan wahyu kecuali jika kita mau mendengar Rasulullah. Beliau memberi pelajaran sekaligus rekomendasi yang pasti tidak diragukan kualitasnya.

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ، صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita yang mengendari unta adalah wanita sholeh dari Suku Quraisy; paling lembut kepada anak di usia kecil dan paling menjaga pada harta suami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan wanita yang mengendarai unta adalah wanita Arab. Al Qostholani dalam Irsyadus Sary menjelaskan, “Dikhususkan Arab di antara manusia lain dan dikhususkan Quraisy di antara Arab sebuah petunjuk bahwa Arab paling mulia di antara manusia dan yang paling mulianya adalah Quraisy.”

Selengkapnya...

elvin
Jum'at, 02 Oktober 2015 20:11
Ditulis oleh Elvin Sasmita

Tak Sekadar Mengakhiri Masa Lajang*

Anda masih lajang? Sudah mampu secara mental, fisik, dan finansial? Menikahlah. Karena menikah tidak sekadar mengakhiri masa lajang. Allah Subhanawata’ala mendorong hambanya untuk menikah dengan visi yang mulia.

Menikah = Regenerasi Ketakwaan

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan  (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa: 1)

Allah Subhanawata’ala memerintahkan kepada seluruh manusia agar bertakwa, inilah frame besar seluruh aktivitas manusia di dalam menjalani kehidupan di dunia. Ini pulalah esensi dari Allah menciptakan manusia dari diri yang satu (Adam) kemudian Allah ciptakan istrinya (Hawa). Yang dengan hadirnya pasangannya itu kemudian proses berkembangbiaknya manusia pun dimulai. Ya.. kita semua berasal dari ayah dan ibu yang sama. Dalam ketakwaan dan dengan menggunakan nama Allah lah kita saling meminta satu sama lain. Inilah hakikat dari berkembang biaknya manusia di muka bumi ini. Melakukan regenerasi ketakwaan. Di mana hubungan kasih sayang itu dibangun dan dijaga. Karena ada Allah yang selalu menjaga dan mengawasi semua aktivitas kita.

Selengkapnya...

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin