budi
Jum'at, 05 April 2013 08:28
Ditulis oleh Budi Ashari

Bimbang Harus Ada di Rumah

 

Assalamualaikum wr wb.

Yth Ustadz.. yang dirahmati Allah

Saya seorang istri dan ibu dari 2 orang anak. Kami berdua sama sama bekerja dan anak anak dirumah dengan pembantu. Alhamdulillah sejauh ini keluarga baik baik saja, anak anak tumbuh sehat dan ceria.


Setiap hari saya berangkat kerja sebelum pukul 6 pagi dan sampai dirumah kembali rata-rata pukul 18.30 malam. Sedangkan suami berangkat lebih pagi dari saya dan sampai di rumah lebih cepat.

Sudah agak lama sebenarnya suami mengungkapkan keinginannya supaya saya off bekerja. Keinginan itu beberapa kali disampaikan ke saya.

 

Saya paham dan merasa wajar akan keinginan beliau. Mengingat perjalanan menuju kantor yang tidak mudah (setiap hari saya menggunakan KRL Bogor-Jakarta PP) dan anak anak yang semakin butuh perhatian. Tetapi beliau juga tidak menghalangi saya untuk tetap bekerja. Secara ekonomi alhamdulillah saat ini sudah cukup mapan bahkan gaji beliau di atas saya.

Selengkapnya...

budi
Kamis, 31 Januari 2013 21:04
Ditulis oleh Budi Ashari

Gara-Gara TV dan PS, Shalat Bolong-Bolong

Saya seorang ayah tinggal di komplek perumahan. Memiliki 5 orang anak, anak pertama kembar sekarang duduk di kelas 5 SD. Awalnya saya tidak hadirkan televisi dan Play station di rumah. Karena anak saya sering pergi main game di rental di dekat rumah pas di depan rumah dan sering nonton tv di rumah tetangga. Sehingga TV dan PS itu, terpaksa saya siapkan untuk anak-anak saya. Dengan kehadiran kedua media tersebut sholatnya mulai bolong-bolong. Bagaimana caranya supaya anak saya mencintai sholat dan dikerjakan di masjid (terkadang juga sholat di mesjid tapi tidak sering)?. syukron atas jawabannya

Muhsir Lawance

Selengkapnya...

budi
Jum'at, 25 Januari 2013 11:16
Ditulis oleh Budi Ashari

Dilema Ibu; Bekerja atau di Rumah

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh,

Ustadz Budi yang dirahmati Allah,

Saya seorang Ibu dengan 2 orang anak perempuan,umur 9 dan 6 tahun.Dan saya bekerja sebagai salah satu staf di perusahaan garment di kota kecil di Jawa Tengah. Sejak usia 11 tahun saya sudah yatim dan ibu saya sebagai PNS - BKKBN kala itu, sebagai staf biasa. Alhamdulillah, karena risky yang Allah berikan melalui ibu, saya dan 2 orang kakak saya bisa lulus kuliah.Saya menikah dengan suami saya, dan sekarang kami tinggal berjauhan karena tugas suami. Kami berkomunikasi hanya melalui telepon, sms, email atau sesekali skype.

Suami saya bekerja sebagai seorang Pimpinan di Bank salah satu Bank Pemerintah. Sebenarnya sejak awal menikah, saya sudah sangat ingin -menjadi ibu rumah tangga dimana saya yakin bahwa kehadiran saya sebagai ibu sangat diperlukan anak-anak saya dan tentu saja suami saya- yang kala itu masih belum ditugaskan diluar pulau jawa.

Namun, Ibu saya dan mertua saya keberatan bila saya keluar dari pekerjaan.. Mengingat Ibu dan Mertua saya dulunya juga ditinggal suami pada waktu anak2nya masih kecil atau masih memerlukan biaya banyak. Saya diminta belajar dari mereka. Meskipun saya akui saya berat sekali, karena hati kecil saya .. saya ingin berjihad di rumah.Suami saya pun awalnya kurang senang bila saya "jobless". Alhamdulillah suami saya pada akhirnya menyetujui saya keluar kerja,namun sekarang saya justru yang dilema ustadz..

Karena terus terang kami baru belajar mengaji, kami jadi semakin cemas sebetulnya dengan penghasilan yang diperoleh suami untuk nafkah kami, anak-anak dan istri. Halal kah Ya Ustadz?

Sekarang, suami juga sudah memiliki pandangan untuk segera berhijrah.Bila terjadi demikian, bagaimana nasehat ustadz? Apakah saya perlu menunda untuk keluar dari pekerjaan, sampai suami saya mendapatkan pekerjaan baru yang lebih Allah ridho? Ataukah tidak mengapa bila saya segera keluar, karena sebetulnya saya juga sudah enggan bekerja diperusahaan ini, karena hampir waktu saya habis tersita dan lingkungan yang jauh dari Islami.

Saya mohon saran, nasehat dan pandangan Ustadz. Dan mohon maaf bila e-mail saya ini kepanjangan membuat kurang berkenan.Demikian dan saya menunggu saran Ustadz.

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
Bunda Ais

Selengkapnya...

budi
Senin, 14 Januari 2013 22:08
Ditulis oleh Budi Ashari

Memisahkan Tempat Tidur Anak


Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Ustadz, mana yang lebih baik bagi anak-anak kami punya kamar sendiri-sendiri agar punya privacy atau dibiarkan sharing kamar dengan pemisahan jenis kelamin saja?

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh

Ummu Bilal

Selengkapnya...

admin
Senin, 14 Januari 2013 20:48
Ditulis oleh Administrator

Konsultasi Parenting Nabawiyah

 

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Qs. AnNahl: 43 dan Al Anbiya’: 7)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ، فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَلَمَتْ؟ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا رَأَتِ المَاءَ» فَغَطَّتْ أُمُّ سَلَمَةَ، تَعْنِي وَجْهَهَا، وَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَتَحْتَلِمُ المَرْأَةُ؟ قَالَ: «نَعَمْ، تَرِبَتْ يَمِينُكِ، فَبِمَ يُشْبِهُهَا وَلَدُهَا»

Dari UmmuSalamah berkata: Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya:
Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah wanita juga wajib mandi jika bermimpi (junub)?
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: Jika ia melihat air (mani)
Ummu Salamah menutupi wajahnya dan bertanya: Ya Rasulullah, apakah wanita juga bermimpi (junub)?
Beliau menjawab: Ya, -berbahagialah kamu- dari mana datangnya kemiripan anak (jika wanita tidak junub)
. (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitulah ayat memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahli ilmu. Juga hadits yang mengungkap konsultasi para shahabat seputar permasalahan keluarga kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bahkan pada hal yang terasatabu untuk ditanyakan. Karena Allah tidak malu pada kebenaran.

Keluarga muslim yang dirahmati Allah, Alhamdulillah Parenting Nabawiyah kini membuka ruang untuk interaksi dan konsultasi.

Silakan kirimkan pertanyaan anda seputar permasalahan keluarga. Dan akan dijawab langsung oleh Ustadz Budi Ashari, Lc. Insya Allah.

Semoga keluarga kita semakin mendapatkan cahaya Allah.

Ya Robb, bimbing kami...

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin