nunu
Ahad, 06 Januari 2013 10:22
Ditulis oleh Nunu Karlina

Ustadz Budi Ashari, Lc: Tinggalkan Kurikulum Mubadzir!

“Silakan hitung berapa lama kita menghabiskan usia sejak TK sampai kuliah!” Ujar Ustadz Budi Ashari, Lc. “Apa yang sudah kita dapat dalam rentang waktu tersebut?” tanyanya lagi di hadapan 130 peserta Pesantren Guru 2 di Kuttab Al Fatih, Depok 2-3 Januari 2013.

Menurut pakar Parenting Nabawiyah ini rentang sekolah sampai usia 22 tahun bukan untuk kepentingan pendidikan. Namun hanya untuk menyalurkan gejolak. Karena remaja dipersepsi penuh masalah, maka dibuatlah berbagai lembaga dan kegiatan untuk menyalurkan gejolak dan energi mereka ke arah yang positif. Sehingga sampai usia kuliah begitu banyak mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan yang berujung pada kemubadziran.

Alumni Fakultas Hadist dan Dirosah Islamiyyah di Universitas Madinah ini mencontohkan kemubadziran dalam kurikulum pembelajaran bahasa, “Fungsi belajar bahasa adalah untuk bicara, mengerti saat orang bicara, paham literatur, bisa menulis literatur. Belajarnya cukup setahun saja. Kenapa mesti berlama-lama seperti sekarang? Dari usia TK sampai kuliah belajar bahasa Inggris, tapi bisakah menggunakannya? Inilah kurikulum mubadzir!” Tegasnya

Penulis Modul Panduan Kuttab Al Fatih ini menekankan kepada para pendidik untuk memperhatikan kurikulum bagi anak-anak didiknya. Jangan sampai kurikulum membuang usia sehingga menghasilkan prestasi yang tidak tepat “Tanyakan pada diri apakah kurikulum itu bermanfaat untuk dunia dan akhirat? Jika tidak tinggalkan saja!” Serunya di hadapan perwakilan 65 lembaga pendidikan yang hadir dari Jabodetabek, Bandung, dan Lampung.

Sosok yang membidani Cahaya Siroh ini mengajak untuk menengok sejarah. Melihat bagaimana Zaid bin Tsabit mampu menguasai bahasa Ibrani hanya dalam 17 hari di usianya yang belia, 11 tahun. Beliaupun menerangkan bahwa sejarah juga mencatat “ALLAMAH”, yaitu ahli di berbagai bidang ilmu. “Karakter ilmu itu adalah holistik, menyeluruh. Maka menjadi ahli tidak hanya di satu bidang saja, tapi di segala bidang. Disebut ALLAMAH.“ jelasnya.

Ibnu Qoyyim, Ibnu Sina, Al Khawarizmi, dan lainnya disebut sebagai “ALLAMAH”. Tidak hanya pandai Al Qur’an dan Sunnah, tapi juga menguasai beberapa bidang ilmu pengetahuan sekaligus.

Dengan ini, seharusnya para pendidik muslim mulai menumbuhkan keyakinan dan keberanian untuk mengganti kurikulum yang tidak sesuai dengan Islam.
“Bahkan ada perumpamaan dalam Taurat dan Injil tentang generasi Rasulullah SAW: generasi Muhammad seperti pohon yang sangat rindang dan membuat kagum yang menanamnya, karena melebihi target yg diinginkan. Dan seharusnya ini menjadi panduan untuk kurikulum pendidikan kita.” Tutur ayah 4 anak ini. (Nu/PN)

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Sejauh Mana Perhatianmu Terhadap Adab?

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang, “Sejauh manakah perhatianmu terhadap adab?” Beliau menjawab “Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan (mendengarnya) seolah-olah setiap organ itu memiliki alat pendengaran (telinga). Demikianlan perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran budi pekerti.” Beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Aku akan senantiasa mencarinya laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.” K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim

07 Nov 2015 admin - avatar admin