nunu
Kamis, 10 Januari 2013 14:09
Ditulis oleh Nunu Karlina

Inspirasi dari Rumah Cahaya

Judul        : Inspirasi Rumah Cahaya
Penulis     : Budi Ashari, Lc
Penerbit    : CS Publishing

Subhanallah… menginspirasi! Itulah kalimat yang terlontar setelah membaca buku ini. Betapa tidak? Jika di buku-buku pernikahan yang sering ditemui kerap kali mengutip Q.S Ar Rum:21, tapi di buku ini pembaca diajak berkonsentrasi penuh dengan kajian mendalam 2 ayat yang jadi visi keluarga muslim sesungguhnya. Bermula dari mencari pasangan yang sesuai tuntunan Qur’an dan Sunnah hingga melahirkan generasi yang menyejukkan pandangan mata, menjadi pemimpin bagi masyarakat bertaqwa, terjaga dari api neraka, dan bersama hingga ke surga. Inilah hikmah dari Q.S Al Furqon:74 dan Q.At Tahrim: 6 yang dijabarkan buku ini.

Eits… tunggu dulu! Ini bukan buku tentang pernikahan. Sama sekali bukan! Ini tentang Parenting Nabawiyah. Parenting? Kan sudah banyak banget buku yang membahas cara mendidik anak? Kalau itu yang ada di benak pembaca, maka harus segera membenahi persepsi. Sekali lagi, ini tentang Parenting Nabawiyah. Tentang konsep keluarga dengan basis nubuwah. Dari mulai landasan, aplikasi, hingga hasil dan evaluasi. Dari mulai pernikahan yang merupakan gerbang awal terciptanya keluarga, menghadirkan cahaya dalam rumahtangga, hingga melahirkan pemimpin dunia yang bertaqwa.

Mengapa harus konsep keluarga Rosulullah? Kenapa mesti Parenting Nabawiyah? Buku ini menyeru kita untuk beriman kepada Rosulullah dengan utuh. Termasuk beriman kepada keberhasilan konsep keluarga Rosulullah yang sukses menghasilkan para pemimpin bumi, pilar peradaban yang membawa cahaya.

Mengimani bahwa ayat-ayat Allah itu mutlak sebagai pedoman bagi muslim. Meyakini sepenuhnya bahwa hadist Rosul sebagai panduan. Maka dalam keseharian kehidupanpun, keluarga muslim akan mendahulukan ayat dan sunnah daripada berbagai penelitian. Pun penting menjauhkan diri dari penelitian-penelitian yang tidak sejalan dengan konsep Islam. Boleh saja menggunakan penelitian, dengan syarat tidak bertentangan dengan Islam. Tentunya dengan lebih dulu mengedepankan Al Qur’an dan hadist. Buku ini mengingatkan bahwa ayat-ayat Allah dan sunnah Rosul bukan hanya sebagai stiker tempelan, tapi butuh digali untuk dilaksanakan. Insya Allah, inilah solusi yang ditawarkan.

Meski pembahasan-pembahasan dalam buku ini tidak ringan, tapi penulis cerdas mengemasnya menjadi alur yang mudah difahami. Tidak dipungkiri bahwa dalam keluarga muslimpun banyak yang bermasalah. Dan buku ini mengajak kita fokus pada masalah keluarga muslim saat ini. “Ada proses yang hilang hari ini. Yaitu, lahirnya para pemimpin-yang merupakan rangkaian proses panjang- dari rahim setiap rumah tangga muslim. Hal ini menjadi teguran keras bagi setiap keluarga muslim. Bahwa gagalnya kelahiran pemimpin istimewa nan adil, adalah bukti kegagalan dalam mendidik pondasi awal mereka sebagai calon pemimpin yang menyejukkan pandangan mata di rumah.”

Dalam hubungan ini, pembahasan visi misi tak berhenti di bab awal, penulis buku ini memperdalam di 2 bab selanjutnya: “Melahirkan Generasi Khilafah” dan Melahirkan “Generasi Pembuka Roma”. Dalam bab-bab ini, kita (khususnya orang tua) diajak untuk menyadari bahwa masa depan bukanlah masa kini, namun masa depan sesungguhnya adalah kebesaran Islam. Hingga diharapkan lahir kembali generasi-generasi sekelas sahabat Rosul dan Muhammad Sultan Al Fatih (penakluk Konstantinopel) yang akan menaklukan Roma. Sesuai hadist Nabi yang disampaikan saat perang Khandaq. Ada cara dan pendidikan khusus yang harus dilakukan untuk melahirkan generasi ini.

Bagi para ayah dan calon ayah, bab “Hati-hati dengan Pemadam Cahaya Keluarga” harus menjadi perhatian khusus. Karena ternyata banyak laki-laki yang mengabaikan Q.S AnNur: 37, sehingga terlalaikan oleh perniagaan dan jual beli (pekerjaan, bisnis, dll) yang menjauhkan diri dan keluarganya dari Masjid dan Al Qur’an sebagai sumber cahaya.

Sinkronisasi Suami dan Istri dibahas dalam bab “Inspirasi At Tahrim”. Dalam buku ini dipaparkan bahwa sangat sulit melahirkan generasi mulia tanpa keselarasan hati dan gerak. Ada rumah tangga yang suaminya bergerak menuju arah kesholihan, sementara istrinya tidak (ataupun sebaliknya). Maka, efeknya tidak hanya kepada diri sendiri, tapi juga untuk anak-anaknya. Kisah Nabi Nuh dan istri, Nabi Luth dan istri, Fir’aun dan Istri, serta kisah Imron dan istri menjadi ibrah yang menarik disajikan dalam pembahasan ini.

Lalu bagaimana solusi untuk mengahadapi berbagai masalah dalam keluarga muslim? Bab “Menyiapkan Landasan untuk Turbulensi Keluarga” dan “Kesholihan Orang Tua untuk Kebesaran Generasi” berusaha memaparkan jawabannya. Diperdalam dengan bab “Belajar dari Keluarga Ibrahim” dan “Belajar dari Keluarga Rasulullah Muhammad” serta beberapa tips-meski tidak seperti kebanyakan buku parenting yang biasa “dibanjiri” tips-, buku ini mampu memberi inspirasi untuk memecah kebuntuan berpikir dan bertindak.

Meski di cetakan ke-2 ini tak lagi disertai VCD, namun tak mengurangi isi dan makna dari buku istimewa ini. Harga Rp.50.000,- pun layak dikeluarkan untuk mendapatkan buku berharga dengan tebal 175 halaman ini. Semoga keluarga kita mendapatkan hikmah dan Inspirasi dari Rumah Cahaya, bersama hingga ke surga… Ya Allah bimbinglah kami…

Info dan pemesanan  081386287977 atau 081808764959

  • Buku IRC

Artikel populer

Kalimat Hikmah

Surga mana yang kamu (wanita) mau?

Surga mana yang kamu (wanita) mau?

إذا صلت المرأة خمسها و صامت شهرها و حصنت فرجها و أطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, puasa bulan Ramadhannya, menjaga kemaluannya, menaati suaminya, akan dikatakan kepadanya: masuklah kepada Surga dari pintu manapun yang kamu mau.” (HR.Ibnu Hibban, Dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih al Jami’)

08 Nov 2012  - avatar